Entri Populer

Minggu, 27 Maret 2011

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA SISWAKELAS VIII SEMESTER II SMP NEGERI 5 SETELUK TAHUN PELAJARAN 2009/2010

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA SISWAKELAS VIII SEMESTER II SMP NEGERI 5  SETELUK TAHUN PELAJARAN 2009/2010



OLEH:


MUH. JUFRI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan dan suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju ke arah kedewasaan.
Peranan pendidikan dalam kehidupan manusia sangat penting sekali, karena dengan pendidikan manusia bisa berpikir dan memenuhi rasa keingintahuan terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan alam semesta ini, oleh karena itu dasar untuk meningkatkan kualiatas sumber daya manusia (SDM) adalah dengan jalan meningkatkan kualitas mutu pendidikan yang merupakan salah satu jalur yang strategis. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal bertugas memberikan pembelajaran kepada anak didik, sehingga anak didik memiliki kecakapan dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
          Partisipasi pendidikan seperti guru memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam pencampaian tujuan pembelajaran. Namun demikian, disadari dan dimaklumi bersama bahwa pencampaian tujuan pembelajaran harus didukung oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah kemampuan merancang dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari oleh siswa. Sesuai dengan pernyataan tersebut, Slameto (2003:1) mengemukakan bahwa berhasil atau tidaknya suatu pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berhasil tidaknya suatu kegiatan pembelajaran sangat tergantung kepada kemampuan dan kreatifitas guru dalam proses pembelajaran dan dapat dilihat dari model pembelajaran yang diterapkan.
          Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar, hal tersebut sering mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu diperlukan suatau pendekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan siswa adalah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)).
          Hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 5 Seteluk pada tanggal 18 januari 2010, melalui wawancara dengan guru IPA Terpadu bahwa pembelajaran IPA Terpadu di SMP Negeri 5 Seteluk dilakukan dengan metode ceramah secara terus-menerus dan latihan soal, dengan kata lain kegiatan pembelajaran berpusat pada guru bukan siswa, serta siswa pasif selama mengikuti pembelajaran. Frekuensi bertanya siswa sangat kecil, jika ada yang bertanya pertanyaan yang diajukan siswa hanya terbatas pada rumus atau soal yang diberikan.
          Guru mengajar dengan berpedoman pada buku teks tanpa memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Siswa dibebankan tugas untuk mempelajari konsep tanpa mengetahui proses untuk menemukan konsep serta tanpa mengetahui manfaat materi yang mereka pelajari dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan kebijakan dari sekolah, mata pelajaran Biologi diajarkan pada semester I dan mata pelajaran Fisika diajarkan pada semester II. Nilai ulangan semester siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPA Terpadu menunjukkan nilai yang rendah. Siswa yang memperoleh nilai di atas 60 atau di atas Kriteria Ketuntaasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah hanya 62,5% . Sedangkan siswa dikategorikan tuntas belajar bila telah mencapai nilai ≥ 65 atau sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan oleh guru mata pelajaran IPA Terpadu yaitu 65 dan suatu kelas tuntas belajar bila kelas tersebut telah mencapai ketuntasan klasikal ≥ 85% (Sudjana, 2002) (dalam Zuhri, 2008)  
          Hal ini dapat dilihat dalam tabel 1.1. tabel berikut menunjukkan data hasil ulangan semester  pada mata pelajaran IPA Terpadu.
Tabel 1.1. Hasil Analisis skor ulangan semester I siswa kelas VIII.B SMP Negeri 5 Seteluk Tahun Pelajaran 2009/2010
Tahun Pelajaran
Jumlah Siswa
Jumlah
Ketuntasan
Individu
Jumlah
Ketuntasan
  Klasikal %
Kriteria

2009/2010


24



15



62,5



Belum tercapai



          Tabel di atas menunjukkan bahwa siswa kelas VIII masih ada yang belum tuntas menguasai materi. Berdasarkan permasalahan di atas, maka  peneliti bekerja sama dengan guru SMP Negeri 5 Seteluk untuk mencoba melakukan inovasi pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan pemahaman dan memberikan kesempatan kepada siswa belajar lebih aktif, lebih berpartisifasi dalam proses belajar mengajar serta mampu berinteraksi satu sama lain. Namun demikian, disadari dan dimaklumi bersama bahwa pencampain tujuan pembelajaran harus didukung oleh beberapa faktor. Salah satu diantaranya adalah kemampuan merancang dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari oleh siswa, karakteristik siswa, karakteristik mata pelajaran dan dapat melibatkan kreativitas mental dan motorik siswa, sehingga siswa mampu menangkap pelajaran Fisika yang diajarkan serta mampu mengatasi rendahnya prestasi belajar siswa.
          Salah satu upaya yang ditempuh adalah meningkatkan pemahaman siswa melalui penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif untuk pengajaran Fisika. Pembelajaran kontekstual merupakan sebuah pendekatan yang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga siswa akan merasakan pembelajaran sangat bermanfaat baginya dan akan menciptakan pembelajaran menjadi lebih menarik atau meyenangkan karena siswa akan belajar melalui mengalami bukan menghafal. Dengan kata lain pembelajaran konstektual merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari- hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem pembelajaran konstekstual akan menuntun siswa melalui tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual yaitu konstruktivisme (Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning,) masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment).  Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.  Dan untuk melaksanakan hal itu tidak sulit.  CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya (Riyanto, 2009:170).
          Jika hal ini dapat diterapkan maka dapat diduga terjadi peningkatan prestasi belajar akibat penggunaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif. Oleh karena itu, dari penjelasan di atas maka perlu diadakan penelitian, Untuk itu peniliti mencoba melakukan penelitian dengan judul “ Penerapan Pendekatan Kontekstual Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Aktivitas dan  Prestasi Belajar Fisika Pada Siswa Kelas VIII Semester II SMP Negeri 5 Seteluk Tahun Pelajaran  2009/2010”
1.2  Rumusan Masalah
          Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu Apakah Penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar Fisika siswa kelas VIII semester II SMP Negeri 5 Seteluk Tahun Pelajaran 2009/2010?

1.3  Tujuan Penelitian

          Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran  kooperatif  dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Seteluk Tahun Pelajaran 2009/2010.

1.4  Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Sebagai kajian untuk memperdalam pengetahuan penelitian dan pihak yang berminat untuk menerapkan model pembelajaran, khususnya dalam penerapan model pembelajaran kooperatif melalui pendekatan kontekstual pada pembelajaran Fisika.
  2. Hasil penelitian ini dapat merangsang siswa lebih aktif dalam belajar Fisika serta merangsang kemampuan berpikir siswa dalam memecahkan masalah sehingga siswa dapat memperoleh hasil yang lebih baik seperti yang diharapkan.
  3. Menjadi salah satu alternatif pelaksanaan proses belajar mengajar untuk     membantu siswanya.
  4. Sebagai bahan acuan dalam menentukan berbagai pilihan model pembelajaran Fisika khususnya pada materi pokok Energi dan perubahannya.
  5. Bagi instansi terkait yang menangani bidang pengajaran fisika dapat menjadikan hasil studi ini untuk mengeluarkan kebijakan tentang cara pengajaran sain fisika.



1.5  Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.5.1        Tempat penelitian dilakukan di SMP Negeri 5 Seteluk Sumbawa Barat.
1.5.2        Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Seteluk Sumbawa Barat tahun pelajaran 2009/2010.
1.5.3        Objek Penelitian
Objek penelitian adalah penelitian kelas (PK) yang mengarah pada penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Seteluk tahun pelajaran 2009/2010.

1.6  Definisi Operasional

        Dalam upaya mencari persamaan persepsi dengan masalah dalam penelitian ini maka ditulislah istilah penting yang digunakan. Adapun hal-hal yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.         Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) adalah merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat, maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada model yang bisa ditiru, guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam Fisika guru menunjukkan contoh seperti orang yang mendorong meja sebagai model yang bisa ditiru dan diamati siswa. Dalam pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)), guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberi contoh kepada temannya cara menyelesaikan soal. Siswa “contoh” tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai “standar” kompetensi yang harus dicapai.
2.         Model pembelajaran dalam penelitian ini adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran untuk mengembangkan dan mengevaluasi seperangkat materi dengan menelaah bagaimana pengaruh tingkah laku mengajar terhadap prestasi siswa yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang ditetapkan.
3.         Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic Skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill.
4.         Aktivitas adalah suatu keaktifan atau kegiatan, sedangkan aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang diberikan kepada peserta didik pada proses pembelajaran dalam situasi belajar mengajar.
5.         Prestasi belajar pada penelitian ini adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah melaksanakan proses belajar mengajar materi pokok energi dan perubahannya melalui pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1  Belajar

          Menurut Djamarah bahwa: “Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari” (1994:21).
          “Ahli lain mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktifitas mental dan psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku pada diri sendiri berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan lingkunganya” Wingkel, 1987 (dalam Riyanto, 2009:61)

          Belajar fisika adalah      merupakan suatu proses usaha yang dilakukan  seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2).
          Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya berkat pengalaman dan latihan, setelah belajar orang akan memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.

2.2 Prestasi Belajar

          “Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa setelah mengikuti melakukan akivitas belajar. Prestasi belajar juga diartikan sebagai hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar”. (Djamarah:1991).

          Menurut Yasa (2008) prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar juga diartikan sebagai kemampuan maksimal yang dicapai seseorang dalam suatu usaha yang menghasilkan pengetahuan atau nilai-nilai kecakapan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa setelah mengalami kegiatan pembelajaran kontekstual dengan model kooperatif.
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
          Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, menurut Syah, 2005 (dalam Eko, 2006:15) faktor-faktor tersebut meliputi:
1) faktor internal (faktor dari dalam siswa).
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa terdiri dua aspek yaitu aspek fisiologis (bersifat alamiah) dan aspek psikologis (bersifat rohaniah). Aspek fisiologis berkaitan erat dengan tingkat kesehatan dan kebugaran organ-organ tubuh. Aspek psikologis meliputi tingkat kecerdasan atau intelegensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa.
2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa).
Faktor yang berasal dari luar siswa juga terdiri dua macam, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. Lingkungan sosial sekolah seperti guru, staf administrasi, dan teman-teman sekelas yang dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Lingkungan nonsosial seperti gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan siswa.
3) faktor pendekatan belajar (Approach to learning).
         Pendekatan belajar merupakan segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses mempelajari materi tertentu. Strategi berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu (Lawson dalam bukunya Syah, 2005).

2.4  Pembelajaran Kontekstual

2.4.1  Pengertian dan hakekat pembelajaran kontekstual
         Menurut Suprijono (2009:79) “Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pebelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat”.
            “Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learing) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh  komponen utama pembelajaran efektif yakni  konstruktivisme (Contructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learing Community), pemodelan (Modeling), reflesksi (Reflection) dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment)” (Riyanto, 2009:170).

            Pembelajaran kontekstual memusatkan pada bagaimana peserta didik mengerti makna dari apa yang mereka pelajari, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, bagaimana mencapainya dan bagaimana mereka mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari. Serta pembelajaran kontekstual juga merupakan pembelajaran autentik dan aktif, di mana pembelajaran autentik dimaksudkan sebagai pembelajaran yang mengutamakan pengalaman nyata, pengetahuan bermakna dalam kehidupan, dekat dengan kehidupan nyata, sedangkan aktif dimaksudkan pembelajaran ini berpusat pada keaktifan siswa. Belajar merupakan aktivitas penerapan pengetahuan, bukan menghafal, siswa “acting”, guru mengarahkannya (Suprijono, 2009:82). 
            Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran kontekstual yang berperan aktif adalah siswa, dimana siswa dituntut harus menemukan sendiri pengetahuannya, mentransformasikan informasi yang kompleks, mengecek informasi yang baru dengan aturan-aturan yang lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Siswa belajar  untuk bekerja melalui tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan tugas itu masih berada pada jangkauan kemampuannya. Siswa belajar dengan mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dan kondisi dalam kehidupan sehari-hari dan siswa juga belajar melalui kerjasama kelompok (diskusi kelompok). Dengan kerjasama kelompok (diskusi) tersebut siswa diharapkan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran.
2.4.2        Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning  (CTL)) mempunyai komponen sebagai berikut (Riyanto, 2009:171)
a.       Konstruktivisme (Constructivism), merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak secara tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksikan pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengetahuan nyata. Siswa harus dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak mempu memberikan semua pengetahuan kepada siswa namun siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
b. Menemukan (Inquiry), merupakan inti dari CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dapat diterapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi dari hasil menemukan sendiri. Guru merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan.
c.    Bertanya (Questioning), merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis CTL yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
d.      Masyarakat belajar (Learing Community). Konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini , di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.
            Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seorang yang terlibat dalam masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicara sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.
e.       Pemodelan (Modeling), maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada model yang bisa ditiru, guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam Fisika guru menunjukkan contoh seperti orang yang mendorong meja sebagai model yang bisa ditiru dan diamati siswa. Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberi contoh kepada temannya cara menyelesaikan soal. Siswa “contoh” tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai “standar” kompetensi yang harus dicapai.
f. Reflesksi (Reflection), adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mendapatkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengajaran atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian aktivitas, atau pengetahuan yang diterima.
         Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan dimiliki diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu siswa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
g. Penilaian sebenarnya (Authentic Assesment), adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa sudah mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assesment tidak dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti UAN), tetapi dilakukan bersama dengan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Pada penilaian (assesment) menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
      Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan (performansi) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.
2.4.3  Strategi pembelajaran kontekstual
Strategi adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan Djamarah, 2002 (dalam Riyanto, 2009:131). Sedangkan menurut Dick dan Carey (dalam Riyanto, 2009:132) mengatakan bahwa strategi pembelajaran adalah semua komponen materi atau paket pengajaran dan prosedur yang digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pengajaran.
Menurut Suprijono ( 2009: 83-84) “strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran”.



Penerapan strategi pembelajaran kontekstual digambarkan sebagai berikut:
a. Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu peserta didik agar yang dipelajari bermakna.
b. Experiencing, belajar adalah kegiatan “mengalami”, peserta didik berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji, berusaha menemukan dan menciptakan hal baru dari apa yang dipelajarinya.
c. Applying, belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dalam konteks dan pemanfaatannya
d. Cooperating, belajar merupakan proses kolaborasi dan kooperatif melalui belajar kelompok, komunikasi interpersonal atau hubungan intersubjektif.
e. Transfering, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.   
2.4.4 Fase-fase pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL))
      Menurut Zahorik dalam Riyanto (2009:167) ada lima fase yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual yaitu :
a. Activating knowledge,  menyandarkan pada memori spasial, yaitu pembukaan proses pembelajaran dengan menggali pengetahuan awal siswa tentang materi yang dibahas dengan cara mengajukan pertanyaan sesuai dengan konteks keseharian siswa yang berkaitan tentang topik yang dibahas.
b. Acquiring knowledge , mengintegrasikan pada berbagai bidang (disiplin) atau multidisiplin, yaitu dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
c. Understanding knowledge, Nilai informasi berdasarkan kebutuhan peserta didik, yaitu mengembangkan pemikiran siswa dengan cara membantu siswa untuk bekerja menemukan dan membangun sendiri pengetahuan dan ketrampilannya. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan pemodelan seperti contohnya orang mendorong meja.
 d. Applying knowledge, menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, yaitu dengan memberikan permasalahan pada siswa yang ada pada LKS, kemudian siswa memecahkan permasalahan tersebut dalam kelompoknya. Dengan pemecahan masalah ini siswa diharapkan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang masalah yang dihadapi dan menyusun langkah-langkah untuk pemecahan masalah serta mendiskusikan dalam kelompoknya, kemudian dilanjutkan dengan menarik kesimpulan sementara dan mempresentasikan hasil kesimpulan sementara di depan kelas. Siswa menarik kesimpulan dengan dibimbing guru.
e. Reflection knowledge, Penilaian autentik melalui penerapan praktis pemecahan problem nyata, yaitu guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja baik dan mengajak siswa melakukan refleksi dari seluruh kegiatan yang dilakukan.

  Tabel 2.1 Fase-fase Pendekatan Kontekstual.

Fese ke

Pendekatan Kontekstual
Perilaku Guru
1
Menyandarkan pada memori spasial
Pembukaan: guru mengajukan pertanyaan sesuai konteks kaseharian siswa
2
Mengintegrasikan pada berbagai bidang (disiplin) atau multidisiplin
Guru menjelaskan     secara keseluruhan dulu, kemudian siswa memperhatikan detailnya.
3
Nilai informasi berdasarkan kebutuhan peserta didik
Guru menjelaskan materi dan memberikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari.
4

Menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik
· Guru membimbing siswa mengerjakan dan mendiskusikan permasalahan dalam LKS sesuai dengan kelompoknya.
· Guru meminta siswa mempresentasikan hasil kinerja kelompoknya di depan kelas.
· Guru membimbing Siswa dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
5
Penilaian autentik melalui penerapan praktis pemecahan problem nyata.
Penutup: guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja baik dan mengajak siswa melakukan refleksi dari seluruh kegiatan yang dilakukan.

2.5    Model Pembelajaran Kooperatif

        “Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill”(Riyanto, 2009:271). Model pengajaran kooperatif biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1.      Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok-kelompok secara kooperatif.
2.      Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3.      Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, dan jenis kelamin yang berbeda pula.
4.      Penghargaan yang lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.
Pengajaran kooperatif mempunyai tiga tujuan penting, yaitu :
1.      Hasil belajar yang akademik
Pengajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2.      Penerimaan terhadap keragaman
Model kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial.
3.      Pengembangan keterampilan sosial
         Model kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial yang dimaksud dalam pengajaran kooperatif antara lain adalah berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.
Menurut Suprijono (2009:65) menyatakan bahwa sintak model pengajaran kooperatif memiliki enam langkah utama, dimulai   dengan langkah guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar hingga diakhiri dengan langkah memberikan      penghargan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Selanjutnya      langkah-langkah pengajaran kooperatif dari awal hingga akhir dapat            dilihat pada tabel 2.2 berikut ini :
Tabel 2.2 Langkah-langkah Model Pengajaran Kooperatif
Fase     ke -
Indikator
Perilaku Guru
1
Menyampaiakan tujuan dan motivasi siswa.  
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi serta mempersiapkan siswa siap belajar.
2
Menyampaikan informasi.
Guru menyampaikan informasi kepada siswa secara verbal dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
5
Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6
Memberikan penghargaan.
Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok.

2.6 Tinjauan Tentang Materi Pokok Usaha Dan Energi

2.6.1 Pengertian Energi

          Energi sering juga disebut dengan tenaga. Dalam kehidupan sehari-hari energi dihubungkan dengan gerak, misalnya orang yang energik artinya orang yang selalu bergerak tidak pernah diam. Energi dihubungkan juga dengan kerja. Jadi Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja atau usaha. Dalam Fisika energi dihubungkan dengan gerak, yaitu kemampuan untuk melakukan kerja mekanik. Energi di alam adalah besaran yang kekal. Satuan energi sama dengan satuan usaha yaitu :

a.  Dalam satuan SI adalah joule (J) atau newton-meter (Nm)

b. Dalam sistem CGS adalah erg.

2.6.2   Bentuk-bentuk energi

a.  Energi kimia adalah energi yang tersimpan dalam persenyawaan kimia.

b. Energi listrik merupakan salah satu bentuk energi yang paling banyak digunakan. Energi ini dipindahkan dalam bentuk aliran muatan listrik melalui kawat logam konduktor yang disebut arus listrik.

c.  Energi panas adalah energi yang berasal dari matahari dan merupakan hasil perubahan energi lain seperti dari energi listrik,energi gerak,dan energi kimia.

d. Energi mekanik adalah energi yang berasal dari penjumlahan energi potensial dan energi kinetik. Secara matematis persamaan energi mekanik dapat dituliskan sebagai berikut:

               EM = EK + EP

Keterangan :    EM = energi mekanik
                        EP = energi potensial
                        EK = energi kinetik
2.6.3        Energi Potensial
          Energi potensial adalah energi yang dimiliki akibat kedudukan benda tersebut terhadap bidang acuannya. Sedangkan yang dimaksud dengan bidang acuan adalah bidang yang diambil sebagai acuan tempat benda mempunyai energi potensial sama dengan nol. Sebagai contoh dari energi potensial, adalah energi pegas yang diregangkan, energi karet ketapel, energi air terjun.Perumusan energi potensial, secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
                                  EP = m g h
                  Keterangan :
              Ep = energi potensial (joule)
               m = massa benda (kg)
               g = percepatan gravitasi (m/s2 )
               h = ketinggian dari muka bumi (m)
2.6.4   Energi kinetik
          Energi Kinetik adalah energi yang diakibatkan oleh adanya gerakan. Sebuah benda yang bermassa m dan bergerak dengan laju v, mempunyai energi kinetik sebesar Ek, dengan kata lain energi kinetik suatu benda adalah energi yang dipunyai oleh benda yang bergerak. Berarti setiap benda yang bergerak, mempunyai energi kinetik Ek, secara matematis, energi kinetik dapat ditulis sebagai:
                                    Ek = ½ mV2
Keterangan:   Ek = energi kinetik (joule)
                        m = massa benda (kg)
                         v = laju benda (m/s)               
Perubahan bentuk-bentuk energi
a.      Energi listrik menjadi cahaya contohnya lampu listrik
b.      Energi kimia menjadi listrik contohnya aki
c.      Energi listrik menjadi gerak contohnya motor listrik
d.     Energi listrik menjadi bunyi contohnya bel listrik
e.      Energi listrik menjadi kimia contohnya pengisian (penyetruman) aki
f.       Energi listrik menjadi kalor contohnya strika listrik
g.      Energi kalor menjadi gerak contohnya mesin uap
h.      Energi cahaya menjadi listrik contohnya sel surya
i.        Energi gerak menjadi listrik contohnya dynamo sepeda
j.        Energi gelombang menjadi bunyi contohnya radio
2.6.5        Hukum kekekalan energi
       Bunyi dari hukum kekekalan energi adalah energi tidak dapat diciptakan dan energi tidak dapat dimusnahkan, tetapi energi dapat diubah dari satu bentuk energi menjadi energi yang lain.
2.6.7  Usaha
       Dalam kehidupan sehari-hari, pengertian usaha identik dengan kemampuan untuk meraih sesuatu. Misalnya usaha untuk bisa naik kelas atau usaha untuk mendapatkan nilai yang besar, namun apakah pengertian usaha menurut ilmu fisika? Dalam fisika, usaha merupakan proses perubahan Energi dan usaha ini selalu dihubungkan dengan gaya (F) yang menyebabkan perpindahan (s) suatu benda. Dengan kata lain, bila ada gaya yang menyebabkan perpindahan suatu benda, maka dikatakan gaya tersebut melakukan usaha terhadap benda. Secara matematis usaha ditulis dalam persamaan berikut:
                                    W = F . S
Keterangan :    W = Usaha (J)
                          F = Gaya (N)
                          S = Perpindahan (m)
2.6.8        Hubungan antara usaha dan energi
          Hubungan antara usaha dan energi adalah ketika kita berusaha mendorong sebuah mobil sehingga bergerak, berarti telah terjadi perubahan energi dari energi yang dikeluarkan oleh tubuh menjadi energi gerak. Jadi dapat disimpulkan bahwa ketika gaya melakukan usaha pada sebuah benda maka akan terjadi perubahan energi pada benda tersebut. Usaha yang dilakukan pada sebuah benda yang bergerak  horizontal menyebabkan perubahan energi kinetik. Dengan demikian, besarnya usaha sama dengan perubahan energi kinetik benda. Secara matematis ditulis sebagai berikut:
                        W = ΔEK
            W = EK2 - EK1
Dengan : W = usaha (J)
              EK= perubahan energi kinetik (J)
            EK2 = energi kinetik akhir (J)
            EK1 = energi kinetik awal (J)
          Ketika kamu mengangkat sebuah balok, kamu akan memberikan gaya dorong terhadap balok pada saat ke atas, berlaku : 
            W tangan = F tangan  S = mgh
Saat ke bawah:
            W gravitasi = F gravitasi . S = - mgh
          Usaha yang dilakukan oleh gaya gravitasi bumi (benda yang bergerak vertikal) sama dengan perubahan energi potensial gravitasi. Secara matematis ditulis sebagai berikut:
                        W = ΔEP
                                    W = EP2 - EP1
                                    W = mg ( h2 - h1 )
Keterangan :   W = usaha (J)
        ΔEP = perubahan energi potensial (J)
        EP= energi potensial awal(J)
 EP2 = energi potensial akhir (J)

(Karim,Saeful.dkk. 2006. Belajar IPA SMP Kelas VIII)

2.7       Kerangka Berpikir

          Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intern, faktor ekstern dan faktor teknik dan pendekatan belajar. Agar belajar dan hasilnya baik harus ditunjang oleh teknik dan pendekatan belajar yang baik pula. Hal tersebut berkaitan dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat. Karena tinggi rendahnya kegiatan belajar siswa juga dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru.
          Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membentuk guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan 7 komponen utama yaitu : kontruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian sebenarnya. Sedangkan model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang menggunakan kerja sama diantara sesama siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Di mana model pembelajaran tersebut, siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lain diantara sesama siswa daripada belajar dari guru. Dengan memperhatikan keuntungan-keuntungan pada pembelajaran kontekstual dengan model kooperatif di atas, maka dapat diduga terjadi peningkatan prestasi siswa, jika pembelajaran kontekstual itu diterapkan melalui model kooperatif.

2.8      Hipotesis

          Istilah hipotesis berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu “hupo” (sementara) dan “thesis” (pernyataan atau teori). Karena hipotesis merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya. Kemudian para ahli menafsirkan arti “ hipotesis adalah sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih ” Kerlinger, 1973 (dalam Riduwan, 2009:162). Selanjutnya (Suharsimi, 2006:71) mengartikan “Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap   permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.
          Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar dan mungkin juga salah.         Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini berdasarkan kerangka berfikir yang diuraikan di atas adalah hipotesis tindakan. Maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII Semester II SMP Negeri 5 Seteluk Tahun Pelajaran 2009/2010”.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Jenis Penelitian                                   

        Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kelas, di mana definisi  dari Penelitian kelas adalah penelitian pembelajaran di dalam kelas untuk perbaikan. Pada umumnya, penelitian kelas dilakukan oleh peneliti yang bertindak langsung sebagai pengajar dan guru sebagai observer. Penelitian yang dilakukan mungkin mengenai teknik bertanya, pendekatan pengajaran, distribusi pemberian kesempatan, peningkatan prestasi Ruseffendi (2009).

3.2  Pendekatan Penelitian                               

       Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2005) bahwa “Pendekatan Kualitatif adalah data yang berbentuk gambar, kata atau kalimat sedangkan kuantitatif adalah data yang diperoleh dari hasil mengukur atau menghitung”. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengolah data hasil wawancara dan hasil observasi pelaksanaan pembelajaran yang berupa data aktivitas tindakan. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengolah data hasil belajar yang berupa nilai hasil evaluasi.  

3.3  Tempat dan Waktu Penelitian

         Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 maret sampai dengan 20 maret 2010 di SMP Negeri 5 Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat Pada Siswa Kelas VIII semester II tahun pelajaran 2009/2010.

3.4  Rancangan Penelitian

Dalam penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif ini digunakan tindakan berulang atau siklus. Pada penelitian ini direncanakan tindakan maksimal 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Seperti yang terlihat pada skema dibawah ini (Suharsimi, 2006:97): dapat di lihat di bukux ARIKUNTO



Untuk lebih jelasnya tentang rancangan penelitian ini akan dijabarkan sebagai berikut:
3.4.1 Perencanaan                    
          Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah :
a.        Mensosialisasikan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model kooperatif kepada guru Fisika SMP Negeri 5 Seteluk .
  1. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan pada saat kegiatan dilaksanakan.
  2. Menyusun lembar observasi untuk melihat bagaimana kegiatan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan chek list.
  3. Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan soal-soal latihan.
  4. Menyusun tes hasil belajar dalam bentuk tes objektif (pilihan ganda) untuk mengetahui hasil belajar siswa.
f.    Membentuk kelompok-kelompok belajar yang anggotanya 4 atau 5 orang siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen dan jenis kelamin yang berbeda.
3.4.2 Pelaksanaan tindakan
          Tahapan ini merupakan pelaksanaan dari semua hal yang telah direncanakan pada tahap perencanaan dan direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran kelas.
3.4.3   Observasi dan evaluasi
          Kegiatan observasi dilakukan secara kontinu setiap kali pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan cara mengamati kegiatan guru dan aktivitas siswa. Sedangkan evaluasi dilakukan dengan memberi tes soal objektif (pilihan ganda) kepada siswa.
3.4.4   Refleksi
          Tahapan ini peneliti sebagai pengajar bersama guru yang bertindak sebagai observer mengkaji kekurangan dari tindakan yang telah diberikan. Hal ini dilakukan dengan cara melihat data hasil evaluasi yang dicapai siswa pada siklus pertama. Jika refleksi menunjukkan bahwa pada tindakan siklus pertama memperoleh hasil yang tidak optimal yaitu tidak tercapainya ketuntasan secara individu (memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 6,5), maka dilaksanakan siklus berikutnya.
Adapun rincian dari siklus-siklus adalah terlampir dalam Tabel 3.1 berikut :
Tabel 3.1Rincian Dari Siklus-Siklus
Siklus
Materi
Jam Pelajaran
Pertemuan
I
1.      Pengertian Energi
2.      Bentuk-Bentuk Energi
3.      Energi Potensial dan Energi Kinetik
4.      Evaluasi siklus I
1 JP
1 JP
1 JP

2 JP
I
I
I

II
II
1.        Hukum Kekalan Energi
2.        Pengertia Usaha
3.         Hubungan antara Usaha dan   Energi
4.        Evlauasi siklus II
1 JP
1 JP
1 JP

2 JP
III
III
III

IV

3.5      Teknik Pengumpulan Data

3.5.1 Sumber data
          Sumber data penelitian ini adalah siswa dan proses belajar mengajar.
3.5.2 Jenis data
Jenis data yaitu terdiri dari data kualitatif yang merupakan (hasil belajar dan observasi terhadap pembelajaran) dan data kuantitatif yang merupakan data hasil evaluasi pada setiap akhir siklus. 
3.5.3 Cara pengumpulan data
             Cara pengambilan data dalam penelitian ini adalah :
a.        Data tentang situasi belajar mengajar didapat dari hasil observasi.
b.      Data hasil belajar diperoleh dengan cara memberikan tes evaluasi atau ulangan yang dilakukan pada setiap akhir siklus.

3.6    Instrumen Penelitian

3.6.1   Tes
          “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”. (Suharsimi, 2006:150).
          Dalam penelitian ini jenis tes yang digunakan adalah tes prestasi belajar   yang terdiri dari 20 butir soal yang diujikan pada siswa kelas VIII.B yang menjadi sampel penelitian. Tes ini berupa soal pilihan ganda (objektif ) dengan empat (4) alternatif jawaban, yang diambil dari beberapa buku paket. Instrumen ini disusun oleh peneliti yang disetujui guru dengan berpedoman pada kurikulum dan buku paket IPA Terpadu.
          Untuk mengetahui baik atau tidaknya butir soal yang diberikan, perlu melakukan analisis terhadap butir soal, yang meliputi:
a.  Validitas
Untuk mengetahui baik atau tidaknya butir soal yang diberikan kita harus mengetahui validitas suatu item. Validitas butir soal suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir soal dalam mengukur apa yang diukur. Adapun rumus yang digunakan adalah rumus product moment yaitu sebagai berikut (Suharsimi, 2006:170)
Keterangan :
rxy        : Validitas Tes
N         : Jumlah Sampel
∑X      : Skor butir Soal
∑Y      : Skor total soal
Nilai rxy akan dikonsultasikan dengan rtabel product moment. Jadi ada 2 kemungkinan yang terjadi yaitu :
1.    Jika rxy  > rtabel, maka butir soal tersebut dikatakan valid.
2.    Jika rxy  > rtabel,  maka butir soal tersebut dikatakan tidak valid.
b.   Reliabilitas
Untuk mengetahui baik tidaknya soal yang diberikan, harus diketahui reliabilitasnya (taraf kepercayaan). Suatu tes dikatakan akan menjumpai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut memberikan hasil yang tetap. Reliabilitas soal menggunakan rumus Kuder Richardson 20 (KR-20) (Suharsimi, 2003:100-101) yaitu :

Keterangan :

r11         : Reliabilitas
n          : Banyaknya item
p          : Proporsi subyek yang menjawab item dengan benar
SD       : Standar deviasi skor total
q          : Proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1- p)
∑pq     : Jumlah hasil perkalian antara p dan q          
Nilai r11 akan dikonsultasikan dengan rtabel product moment dengan taraf kepercayaan 95%. Jadi ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu :
1)   Jika r11 ≥ rtabel, maka butir soal tersebut dikatakan reliabel.
2)   Jika, r11 ≤ rtabel maka butir soal tersebut dikatakan tidak reliabel.
c.   Taraf kesukaran soal
Selanjutnya adalah mengetahui taraf kesukaran soal. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar, soal yang terlalu mudah sering disepelekan karena siswa tidak terangsang untuk lebih tekun menyelesaikannya. (Suharsimi, 2003:208). Adapun cara untuk menentukan taraf kesukaran soal kita dapat mencari dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
                        P = 
Keterangan :
P          : Indeks kesukaran soal
B         : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
Js         : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Kriteria indeks kesukaran soal tersebut dapat dilihat pada tabel 3.3 di bawah ini:
Tabel 3.3 Kriteria Indeks Kesukaran Soal
No
Nilai
Kriteria
1
0,00-0,30
Sukar
2
0,31-0,70
Sedang
3
0,71-1,00
Mudah




d.  Daya Pembeda Soal
Yang terakhir adalah mengetahui daya pembeda soal. Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkembang tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. (Suharsimi, 2013:213)
Rumus yang digunakan adalah :
DP = PA – PB
PA =               PB =
Keterangan :
Dp = Indeks DP atau daya pembeda yang dicari
BA = Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab benar
BB = Jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab benar
JA = Jumlah siswa kelompok atas
JB = Jumlah siswa kelompok bawah
PA = Proporsi kelompok atas
PB = Proporsi kelompok bawah
Adapun kriteria dari daya pembeda soal dapat dilihat pada table di bawah ini:
Table 3.4 Kriteria Daya Pembeda Soal
No
Nilai
Kriteria
1
0,00-0,20
Jelek
2
0,21-0,40
Cukup
3
0,41-0,70
Baik
4
0,71-1,00
Baik sekali
e.   Fungsi pengecoh (Distractor)
Fungsi pengecoh soal dapat ditentukan apakah berfungsi dengan baik atau tidak dilihat dari pola jawaban soal. Pengecoh yang tidak sama sekali dipilih  oleh peserta tes (Tester) berarti bahwa pengecoh itu jelek, terlalu menyolok  menyesatkan. Sebaliknya sebuah pengecoh (Distractor) dapat dikatakan berfungsi dengan baik apabila pengecoh tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi pengikut-pengikut tes yang kurang memahami konsep atau kurang memahami bahan. Suatu pengecoh dapat dikatakan berfungsi dengan baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% peserta tes.
3.6.2   Lembar Observasi
          Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang berisikan deskriptor-deskriptor dalam indikator prilaku guru dan siswa yang sudah dimodifikasi yang akan diamati selama proses belajar mengajar berlangsung.
             Adapun indikator prilaku siswa tersebut adalah sebagai berikut :
a.     Persiapan dan antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
b.   Interaksi siswa dengan guru.
c.   Interaksi siswa dengan siswa.
d.  Aktivitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran .
e.   Aktivitas siswa dalam berdiskusi kelompok.
f.    Partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil belajar.

          Adapun indikator prilaku guru yang diperhatikan adalah :
a.     Membangkitkan minat dan motivasi siswa dalam belajar.
b.   Penyampaian materi kepada siswa.
c.   Pendamping siswa dalam kegiatan kelompok.
d.  Interaksi guru dengan siswa.
e.   Kemampuan menciptakan suasana kelas yang kondusif.
f.    Bersama-sama siswa membuat kesimpulan.
          Setiap deskriptor pada masing-masing indikator yang tampak selama observasi dicatat pada lembar observasi dengan memberi tanda silang.

3.7     Teknik Analisis Data

3.7.1   Data hasil tes
          Setelah memperoleh data tes hasil belajar, maka data tersebut dianalisis secara kuantitatif.
a.    Ketuntasan individu
          Setiap individu dalam proses belajar mengajar dikatakan tuntas terhadap materi pelajaran yang diberikan apabila memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 6,5.
b.    Ketuntasan klasikal
KK =
Keterangan:  KK = ketuntasan klasikal
                 x    = jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 6,5
                 Z    = jumlah siswa yang mengikuti tes
          Sesuai dengan teknis penilaian, kelas  dikatakan tuntas secara klasikal terhadap materi yang disajikan jika ketuntasan klasikal mencapai 85%     
c.    Nilai Rata-Rata Kelas
          Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara deskriptif, yaitu menentukan skor rata-rata hasil tes. Analisisi untuk mengetahui hasil tes belajar, dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan: M   = mean (rata-rata)
                    ∑ x  = jumlah nilai yang diperoleh siswa
                     N    = banyaknya siswa yang ikut tes
          Prestasi belajar siswa dikatakan meningkat apabila terdapat peningkatan rata-rata skor dari rata-rata skor sebelumnya.
3.7.2   Data hasil observasi
Setiap indikator perilaku siswa pada penelitian ini cara penskorannya berdasarkan aturan berikut:
    Skor 4 diberikan jika 4 deskriptor nampak
    Skor 3 diberikan jika 3 deskriptor nampak
    Skor 2 diberikan jika 2 deskriptor nampak
    Skor 1 diberikan jika 1 deskriptor nampak
Skor 0 diberikan jika tidak ada deskriptor nampak

Untuk mengetahui aktivitas siswa dalam pembelajaran, maka data hasil observasi yang berupa skor diolah dengan rumus:
    A =
keterangan : A = skor rata-rata aktivitas belajar siswa
                  ∑ x = jumlah skor aktivitas belajar siswa
                      n = banyaknya siswa
i = banyaknya item
Skor maksimal ideal (SMI) merupakan skor tertinggi aktivitas siswa yang didapat apabila semua deskriptor yang diamati nampak yaitu skor 4, untuk menilai kategori aktivitas siswa, ditentukan terlebih dahulu MI dan SDI. Cara menetukan MI dan SDI adalah sebagai berikut:
           MI  = x (skor tertinggi + skor terendah)
          SDI = x (skor tertinggi - skor terendah)
Keterangan: MI  = Mean ideal
            SDI = Standar deviasi ideal
            Tabel 3.5 Panduan Observasi Aktivitas Siswa
Interval
Nilai
Kategori
A ≥ MI + 1,5 . SDI
A ≥ 3
Sangat aktif
MI + 0,5 . SDI ≤ A <     MI + 1,5 .SDI
2,33 ≤ A  < 3
Aktif
MI – 0  ,5 .SDI ≤ A< MI+0,5 . SDI
1,66 ≤ A  < 2,33
Cukup aktif
MI – 1 ,5 .SDI ≤ A< MI - 0,5 . SDI
1 ≤ A  < 1,66
Kurang aktif
A < MI – 1,5 .SDI
A ≤ 1
Sangat kurang aktif

3.8    Indikator Kerja

        Indikator kerja penelitian kelas ini adalah sebagai berikut :
3.8.1     Keberhasilan penelitian ini dilihat dari adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada kedua siklus yang akan terlihat dari pengamatan rata-rata skor.
3.8.2     Keberhasilan penelitian ini dilihat dari adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran kontekstual dengan model kooperatif yang akan terlihat dari hasil observasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
                                                                                        
4.1  Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa
           Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa, dilakukan observasi oleh peneliti. Dari hasil observasi aktivitas siswa diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.1 Ringkasan hasil aktivitas belajar siswa siklus I dan II
Indikator
Siklus
I
II
Skor
Skor
Kesiapan dan antusias siswa dalam mengikuti kegiatan
65
82
Interakasi siswa dengan guru
14
40
Interaksi siswa dengan siswa
47
48
Aktivitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran
47
57
Aktivitas siswa dalam berdiskusi kelompok
48
48
Partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil diskusi kelompok
56
63
Jumlah
266
338
Rata-rata per siswa
1,92
2,69
Kategori
Cukup aktif
Aktif

           Berdasarkan tabel 4.1 hasil observasi di atas, rata-rata skor aktivitas siswa pada siklus I adalah 1,92 dengan kriteria cukup aktif, sedangkan rata-rata skor aktivitas pada siklus II adalah 2,69 dengan kategori aktif. Kegiatan siswa sudah berjalan dengan baik pada siklus II dibandingkan siklus I, tetapi masih ada beberapa siswa yang sering mengganggu temannya sehingga hal tersebut menyebabkan terganggunya proses pembelajaran.
4.1.2 Hasil Evaluasi Siklus I dan Siklus II
Tabel 4.2 Hasil Evaluasi Siklus I dan II
Tes
Jumlah siswa
Persentase ketuntasan
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Rata-rata
Siklus I
24
81,81%
90
35
70
Siklus II
24
87,5%
95
50
77,29

           Dari hasil evaluasi diperoleh data tentang rata-rata prestasi belajar siswa pada siklus I yaitu 70 dengan nilai tertinggi 90 dan terendah 35 sedangkan pada siklus II rata-rata prestasi belajar siswanya adalah 77,29 dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendahnya 50, dan tebel 4.2 tersebut terlihat bahwa persentase kekuntasan belajar secara klasikal siswa sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan yakni ≥ 85%. Hasil evaluasi secara lengkap ada pada (lampiran 43 dan 44)
           Dari hasil observasi dan evaluasi hasil belajar siswa diperoleh bahwa indikator kerja sudah tercapai yaitu aktivitas siswa berkategori aktif dan rata-rata skor hasil belajar sudah lebih besar dari 70 di akhir siklus. Ringkasan hasil analisis observasi aktivitas siswa dan prestasi belajar siswa siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Observasi Dan Prestasi Belajar Siswa Siklius I dan Siklus II
Siklus
Aktivitas
Rata-rata nilai prestasi
Peningkatan nilai rata-rata
Skor
Kategori
I
1,92
Cukup aktif
70
-           
II
2,69
Aktif
77,29
Signifikan



4.2. Pembahasan
Penelitian kelas ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar Fisika pada materi pokok energi dan perubahannya melalui penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif.
Berdasarkan analisis data hasil belajar siswa pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 70 dengan nilai maksimum 90 dan nilai minimum 35, serta ketuntasan klasikalnya 81,81%, dan dari hasil observasi kegiatan pembelajaran pada siklus I, didapatkan bahwa aktivitas siswa secara keseluruhan tergolong kurang aktif. Sedangkan  pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 77,29 dengan nilai maksimum 95 dan nilai minimum 50, serta ketuntasan klasikalnya 87,5%, serta hasil observasi kegiatan pembelajaran pada siklus II, didapatkan bahwa aktivitas siswa secara keseluruhan tergolong aktif.
Belum tercapainya ketuntasan klasikal pada siklus I dikarenakan siswa belum terbiasa dengan penerapan pendekatan kontekstual dalam model pembelajaran kooperatif, dalam proses pembelajaran tentang materi yang diajarkan. Sebagian besar siswa tidak serius pada waktu kerja kelompok sehingga kerjasama antar anggota kelompok kurang optimal. Selain itu juga sebagian siswa kurang aktif dalam mengerjakan soal latihan dan banyak siswa yang menyalin jawaban temannya. Hal ini dikarenakan siswa malu bertanya pada guru jika mengalami kesulitan pada materi yang dipelajari.
        
         Setelah dilakukan tindakan perbaikan pada sisklus II, guru memberikan tes evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siklus II. Sehingga hasil yang didapat pada siklus II meningkat jika dibandingkan dengan hasil evaluasi pada siklus I. Hal ini didukung oleh keaktifan siswa dalam berdiskusi kelompok, walaupun pada kenyataannya masih ada kelompok yang kurang aktif. Siswa sudah cukup aktif dalam mengerjakan soal latihan yang diberikan dan tidak malu bertanya pada guru atau temannya jika mengalami kesulitan. Walaupun pada dasarnya masih ada siswa yang kurang aktif dalam mengerjakan soal latihan. Hal ini disebabkan pada waktu proses pembelajaran siswa masih ada yang sering mengganggu temannya sehingga pada waktu penyampaian konsep siswa tidak terlalu memperhatikan gurunya.
            Secara keseluruhan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif pada materi pokok energi dan perubahannya dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Seteluk. Hal ini disebabkan karena pada penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif, siswa sendiri belajar melalui partisipasi aktif dengan anggota kelompoknya dalam menghubungkan suatu materi pokok Fisika dengan apa yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi  penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar fisika pada siswa kelas VIII semester II SMP Negeri 5 Seteluk pada tahun 2009/2010.
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatan aktivitas dan prestasi belajar fisika pada siswa kelas VIII Semester II SMP Negeri 5 Seteluk Tahun Pelajaran 2009/2010.
5.2 Saran
  1. Kepada guru Fisika SMP Negeri 5 Seteluk khususnya kelas VIII disarankan menggunakan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran kooperatif karena merupakan salah satu metode pembelajaran yang mengarah kepada pola fikir anak sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar dan ketuntasan belajar dalam mata pelajaran Fisika.
  2. Kepada peneliti berikutnya diharapkan agar mengadakan penelitian dengan penerapan pendekatan kontekstual  dengan model pembelajaran kooperatif  pada materi pokok yang lain guna untuk melihat lebih jauh efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan prestasi belajar serta aktivitas siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi  Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka   Cipta.
                                                                                  
Djamarah, S.B. 1994. Prestasi Belajar  dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Purwanti, Endang. 2007. IPA Fisika Eksplorisasi. Klaten: Intan Pariwara.
Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Ruseffendi. 2009. Penelitian Kelas. http://www.psb-sma.org/content/blog/pengertian-penenelitian-Tindakan kelas-penelitian kelas. Diakses tanggal 11 februari 2010. 09:15 Wita

Saeful dkk. 2008. Belajar IPA Membuka Cakrawala Alam Sekitar Untuk Kelas VIII SMP. jakarta: Pusat Perbukuan, Depdiknas

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2002. Metode Statistik. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. 2005. Pendekatan Penelitian. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. 2009. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Suprijono, Agus. 2009. Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Syah. 2005. Collect Skripsi Archives.

Yasa, Doantara. 2008. Aktivitas dan Prestasi belajar. http://ipotes.wordpress.com/2008/05/24/prestasi-belajar/. Diakses tanggal 11 Februari 2010. 09:15 Wita



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar